Sekeping Catatan Hati Untuk Indonesia Tentang Jogja Yang Berhati Nyaman


Sekeping Catatan Hati Untuk Indonesia Tentang Jogja Berhati Nyaman

Handphonenya aman Bang, Udah Ane temuin. Ternyata ada di parkiran motor Taman Sari. Diamanin sama si Bapak Tukang Parkirnya. Tenang aja Bang Firman. Orang-orang Jogja itu berhati nyaman kok. Hehe…”

Begitulah pesan BBM yang dikirim oleh adik kelas saya ke handphone teman saya, Haekal yang kala itu pergi bersama saya untuk backpacking liburan Tahun Baru 2016 mengeksplor Dieng dan Jogja selama seminggu. Seketika kekhawatiran saya hilang dalam perjalanan pulang menggunakan kereta api dari Stasiun Tugu Jogja, yang ada hanyalah rasa tenang dan bersyukur karena ternyata handphone saya tidak hilang diambil oleh orang iseng, terjatuh atau kemungkinan lainnya, tetapi justru ditemukan dan diamankan oleh salah seorang bapak tukang parkir di tempat wisata Water Castle atau Istana Air Taman Sari yang berada tepat di tengah perkampungan padat Kota Jogja.

KECEROBOHAN YANG MENJADI HIKMAH DAN PELAJARAN  BERHARGA

IMG_20160112_225924

Tempat Wisata Istana Air Taman Sari, lokasi dimana saya meninggalkan handphone dengan ceroboh. (Sumber foto: Dokumentasi Pribadi)

Saya akui kejadian ini memang terjadi karena kecerobohan saya dalam menjaga barang-barang pribadi yang saya miliki. Saya tidak sadar bahwa saya meninggalkan handphone saya di warung dekat dengan lokasi parkiran Istana Air Taman Sari. Saat itu, saya mampir untuk membeli minum. Tapi entahlah, sampai saya berkeliling ke tempat wisata lainnya di tengah kota Jogja seperti Alun-Alun, Malioboro, Taman Pintar, Benteng Vredeburg, Sumur Gumuling (Masjid Bawah Tanah) Kampung Taman dan Kampung Cyber, saya tidak sesekali mengecek handphone saya. Hingga akhirnya saya baru tersadar bahwa handphone saya hilang ketika saya hendak melakukan sholat Ashar di Mushola Taman Pintar sekitar pukul 16.30 WIB. Parahnya, hari itu adalah hari terakhir saya liburan di Jogja dan pukul 18.10 WIB adalah jadwal keberangkatan saya untuk kembali pulang ke Tangerang.

Tentu Anda bisa bayangkan sendiri bagaimana hectic dan paniknya saya saat itu. Tanpa berpikir panjang, dengan sisa waktu satu jam lebih saya berusaha untuk mendatangi kembali tempat-tempat wisata yang saya kunjungi hari itu untuk menemukan handphone saya yang hilang entah dimana. Mengapa saya begitu panik? Bukan. Bukan karena handphonenya yang bagus, branded atau mahal. Tapi karena banyaknya hal penting, memori indah dan berharga yang saya simpan di handphone tersebut, termasuk dokumentasi perjalanan saya selama seminggu untuk Explore Jogja dan Dieng saat itu. 

IMG_20160112_230535

Taman Pintar Yogyakarta, salah satu tempat yang saya datangi kembali untuk mencari handphone saya. (Sumber foto: Dokumentasi Pribadi)

Saya mendatangi kembali tempat-tempat yang saya kunjungi hari itu, kecuali Istana Air Taman Sari. Karena waktu yang sempit dan lokasi Taman Sari yang lumayan jauh dari Taman Pintar ditambah perasaan khawatir akan tertinggal kereta api. Akhirnya, saya mencoba tenang dan memilih untuk berpikir mencari solusi bagaimana saya bisa mendapatkan kembali handphone saya.

Selama menunggu kereta di Stasiun Tugu hingga masuk kereta dan berangkat pulang, saya dan Haekal akhirnya mencoba untuk meng-contact adik-adik kelas alumni satu almamater saat SMA di Pondok Pesantren yang melanjutkan studi dan tinggal (kos) di Jogja. Sebut saja Dudi, dialah adik kelas  yang bersedia menolong saya saat itu untuk mencari keberadaan dimana handphone saya.

Dan,, Surprise..! Sekitar pukul 23.00 WIB, ketika saya sudah sedikit tertidur, Haekal membangunkan saya dan memberitahu bahwa  Dudi mengirimkan pesan BBM seperti apa yang sudah saya tulis di awal tulisan ini. Intinya, handphone saya tertinggal di warung dekat parkiran motor Taman Sari dan diamankan oleh seorang bapak yang tak lain adalah tukang parkir di tempat tersebut.

Berikut ini adalah dokumentasi foto-foto saya saat explore Jogja setahun lalu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SI BAPAK TUKANG PARKIR YANG BAIK HATI, JUJUR DAN ‘MISTERIUS’

Cerita ini belum berakhir sampai disitu. Ada sesuatu hal yang membuat hati saya merasa tersentuh dan terkagum. Ketika junior saya, Dudi mendatangi lokasi parkiran Taman Sari malam itu, si Bapak Tukang Parkir  yang namanya tidak ingin diketahui ini langsung mengamini pernyataan Dudi tentang adanya seseorang yang kehilangan handphone di dekat tempat parkiran tersebut yang tak lain adalah saya.

Walau begitu, si Bapak ini tidak langsung mempercayai Dudi begitu saja. Ia melontarkan banyak pertanyaan kepada Dudi terkait dengan spesifikasi handphone milik saya tersebut. Saya akui apa yang dilakukan oleh si Bapak ini adalah tindakan yang benar. Mengetahui hal ini, saya langsung memberitahu secara detil tentang bagaimana spesifikasi handphone saya melalui pesan BBM dari handphone Haekal.

Ilustrasi Tukang Parkir

Foto ilustrasi seorang tukang parkir. (Sumber Foto: hipwee.com)

Setelah si Bapak mengetahui spesifikasi handphonenya melalui pesan yang saya kirimkan kepada Dudi, ia mulai percaya namun tidak langsung memberikan handphone tersebut kepada Dudi. Sebagai syarat terakhir, si Bapak meminta saya untuk memfoto box atau dus handphone dan stiker informasi spesifikasinya setibanya saya di rumah. Tanpa pikir panjang saya pun menyetujui hal tersebut.

Terakhir, saya pun tidak lupa memberitahu Dudi untuk memberikan sedikit Rupiah sebagai rasa terima kasih saya terhadap si Bapak. Tetapi, lagi-lagi si Bapak membuat saya terkagum. Ia menolak untuk menerima imbalan apapun dari saya melalui Dudi. Hingga Dudi berhasil mengirimkan handphone saya melalui kantor pos dan sampai ke tangan saya dengan selamat. Si Bapak tetap menolak untuk diberikan sesuatu sebagai ungkapan terima kasih saya. Beliau benar-benar menolong saya tanpa pamrih. Atas kebaikan si Bapak ini, saya hanya bisa berdoa semoga beliau selalu diberikan kesehatan, usia dan rezeki yang berkah oleh Allah SWT. Aamiin.

PELAJARAN SEDERHANA YANG BERMAKNA DARI JOGJA UNTUK INDONESIA

Berbicara tentang Jogja itu tidak melulu seputar destinasi pariwisatanya yang terkenal bahkan hingga mancanegara. Lebih dari itu, Jogja adalah tentang keistimewaan pada kehidupan masyarakatnya dan kultur yang berkembang didalamnya. Memang benar, orang Jogja itu berhati nyaman. Saya merasakannya sendiri.

Setidaknya seperti itulah ungkapan yang bisa mewakili apa yang telah saya rasakan selama berada di Jogja. Jogja itu lebih dari sekedar destinasi traveling untuk para pelancong, baik dalam maupun luar negeri. Jogja itu berbeda dan memiliki suatu keistimewaan yang berbeda dan tidak dimiliki daerah lainnya di Indonesia.

Potret suasana Malioboro yang baru. (Sumber foto: casciscus.com)

Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Bapak Gubenur DIY Sri Sultan HB X dalam pembukaan FKY 2017 yang lalu, beliau berkata  “Sudah semestinya keistimewaan Jogja adalah untuk Indonesia. Bahwa menjadi Jogja, adalah menjadi Indonesia.” Maka, saya mencoba menghubungkan pengalaman yang saya alami dengan penggalan kata yang diucapkan oleh Bapak Gubernur sehingga saya dapat mengambil suatu kesimpulan yang sederhana namun sangat bermakna bagi Jogja maupun Indonesia.

Si Bapak Tukang Parkir yang saya ceritakan adalah salah satu bukti orang Jogja yang mencerminkan sosok berhati baik, jujur, sederhana  dan tulus dalam berperilaku sehingga mampu memberikan kenyamanan dan keamanan bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam konteks yang lebih luas, kepribadian si Bapak tersebut cukup menggambarkan bagaimana kepribadian masyarakat Jogja secara umum. Nilai-nilai sederhana inilah yang sepatutnya menjadi panutan kepribadian bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mungkin kita semua sudah tidak asing mendengar ungkapan “Jogja Istimewa”. Tentunya ungkapan tersebut bukan hanya sekedar kata-kata pasif tanpa makna. Ada spirit dan nilai-nilai kehidupan yang terus aktif digerakkan di balik ungkapan “Jogja Istimewa” tersebut. Dan keistimewaan tersebut bukanlah hanya untuk Jogja, tetapi untuk Indonesia. Maka, menjadi Jogja menjadi Indonesia adalah ungkapan yang dapat dijadikan sebagai bekal menjadi sosok orang Indonesia yang bermartabat dan memiliki kepribadian unggul.

Sebagai selingan, mari simak video YouTube berikut ini untuk melihat sisi istimewa Jogja dari sudut kota dan Malioboro yang harmonis dan romantis. 🙂

Di akhir tulisan ini, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran berharga dari sosok Bapak Tukang Parkir yang dengan kemurahan hati dan kejujurannya telah mengembalikan handphone saya tanpa mengharapkan sedikit pun imbalan. Dan terlepas dari semua perkataan orang dan semboyannya yang ‘istimewa’, Jogja memang sudah menorehkan kesan istimewa di hati saya secara pribadi. 🙂

Wahai Jogja, semoga saya dapat menginjakkan kaki saya kembali di tanahmu. Dan Ya, bertemu dengan sosok Bapak Tukang Parkir itu, walau saya tak tahu pasti nama dan wajahnya. Tapi, saya yakin kebaikannya akan mempertemukan saya kepadanya. Semoga panjang umur.  🙂

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Menjadi Jogja Menjadi Indonesia”.

Cerita ini adalah murni pengalaman penulis. Seluruh foto adalah dokumentasi pribadi, kecuali beberapa foto dan penulis sudah mencantumkan sumbernya. Adapun video didapatkan dari situs video Youtube dengan nama Official Account ‘Kominfo DIY’.

Iklan

5 respons untuk ‘Sekeping Catatan Hati Untuk Indonesia Tentang Jogja Yang Berhati Nyaman

Jangan Lupa Komen ya....!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s