Catatan Student Exchange JENESYS 2,0 2014 “Belajar Budaya di Negeri Shinkansen” (Part 5)


Belajar Budaya di Negeri Shinkansen
(Catatan Perjalanan Student Exchange JENESYS 2,0 ke Jepang, 22 Feb – 04 Maret 2014)
Oleh : Firmansyah

Part 5

Tulisan ini adalah tulisan lanjutan dari “Part 1, 2, 3 dan 4″ yang pernah diposting sebelumnya. Bagi yang belum membaca “Part 1, 2, 3 dan 4″, tulisan dapat dilihat di halaman blog atau klik link berikut : Part 1 , Part 2, Part 3, Part 4.

  • Museum Ilmu Pengetahuan Gas & Ceramah Kota Sakai

Keesokan harinya merupakan hari ketiga kami di Osaka. Sesuai dengan schedule, kami dijadwalkan akan untuk berkunjung ke Museum Ilmu Pengetahuan Gas, Pemerintah Kota SAKAI dan Museum Kompeito (Permen-Gula Tradisonal). Museum ilmu pengetahuan gas merupakan museum yang dibangun pada tahun 1982 oleh perusahaan Osaka Gas. Museum ini dibangun di daerah Senboku LNG (Liquefied Natural Gas atau Gas Alam Cair) Terminal 2, yang terletak di kota Sakai. Tujuan utama pembangunan museum ini adalah sebagai tempat pendidikan tentang energi dan gas bagi siswa atau pelajar sekolah. Selain itu, museum ini juga digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman masyarakat dan pelanggan terhadap bisnis kota perusahaan gas.

Searah dengan tujuan utamanya sebagai tempat pendidikan bagi pelajar sekolah, museum ini memiliki beberapa pameran dan observasi yang menarik untuk dilihat dan tidak membosankan. Pengunjung akan dijelaskan tentang prinsip alam seperti sifat nitrogen cair, prinsip pascal, dan berat jenis gas dengan menggunakan praktikum.

Seorang Pemandu/Peraga wanita yang memperagakan Praktikum Nitrogen Cair

Seorang Pemandu/Peraga wanita sedang melakukan Demo Praktikum Nitrogen Cair

Misalnya, pada saat kunjungan kami kesana. Kami dijelaskan tentang praktikum nitrogen cair, diperagakan sebuah percobaan memasukkan beberapa benda. Untuk percobaan pertama,

sapu tangan dimasukkan ke dalam gelas yang berisi nitrogen cair. Hasilnya adalah tidak terjadi perubahan apapun terhadap sapu tangan. Hal ini terjadi karena sapu tangan tidak memiliki air/udara di dalamnya. Pada percobaan ke dua, balon yang berisi udara dimasukkan ke dalam nitrogen cair. Ternyata balon tersebut menjadi kecil dan volumenya menyusut. Dijelaskan hal ini terjadi karena semakin dingin, volume udara dalam balon semakin kecil, namun jika dikeluarkan dan dipanaskan, maka volumenya akan kembali normal. Kemudian untuk yang ketiga bola pingpong setelah didinginkan dalam nitrogen cair dijatuhkan ke lantai. Hasilnya adalah bola pingpong tersebut pecah, karena suhu dingin membuat keras bola tersebut.

Setelah menyaksikan peragaan praktek dan pameran, selanjutnya kami diajak berkeliling komplek Senboku LNG ini. Selama perjalanan berkeliling, kami pun dijelaskan bahwa LNG dapat digunakan untuk beberapa hal, salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga cryogenic, yang menggunakan suhu dingin LNG dan air laut untuk menggerakkan. Setelah LNG berubah menjadi gas, maka gas alam dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik atau dialirkan menuju rumah-rumah.

Sumber LNG berasal dari negara-negara asia. Seperti Brunei, Malaysia, Indonesia, Australia, Qatar, dan Oman. Dari beberapa negara tersebut, Indonesia merupakan pemasok terbesar. Pada tahun 2007, Indonesia memasok 35% LNG, sedangkan negara lain masing-masing hanya memasok 15%. Sebagai salah satu pemasok terbesar LNG, Indonesia berada dalam keadaan ironis. Dalam satu sisi, Indonesia sebagai pengekspor bahan bakar fosil dan gas alam yang besar. Namun dalam sisi lain Indonesia juga merupakan pengimpor minyak terbesar. Hal tersebut dapat terjadi karena Indonesia tidak memiliki industri pengolahan minyak.

Ungkapan Terima Kasih diwakili oleh salah satu teman grup kami, Fariz Kustama

Ungkapan Terima Kasih diwakili oleh salah satu teman grup kami, Fariz Kustama dari ITB Bandung

Berfoto Bersama Patung Maskot Museum Pengetahuan Gas Osaka

Berfoto Bersama Patung Maskot Museum Pengetahuan Gas Osaka

Para Pemandu mengiringi kepergian kami

Para Pemandu mengiringi kepergian kami

Setelah puas dan cukup mendapatkan banyak pengetahuan di Museum Pengetahuan Gas Osaka, selanjutnya kami beranjak menuju tempat berkumpul dengan Pemerintah Kota Sakai untuk mendengarkan Ceramah tentang kota Sakai. Pada sesi ini kami diajak bersama-sama mendengar dan mengetahui lebih jauh tentang kota Sakai. Asal usul sejarah kota Sakai, budaya, peninggalan-peninggalan atau warisan, serta perkembangan ekonomi dan teknologi kota Sakai. Menelisik lebih jauh tentang perubahan yang terjadi sehingga terbentuklah pemerintahan kota Sakai yang modern. Dari sesi ceramah yang dilakukan oleh salah satu petugas pemerintahan kota Sakai ini, kami dapat mendalami fungsi pemerintah daerah dan fondasi kehidupan masyarakat di Sakai.

Ungkapan Terima Kasih dan Pemberian Wayang dan Blangkon sebagai Kenang-kenangan

Ungkapan Terima Kasih diwakili oleh salah satu dari teman grup kami, Erna dari Univ Syiah Kuala, Aceh dan Pemberian Wayang dan Blangkon sebagai Kenang-kenangan

  • Permen Jepang Asal Portugis

             Matahari sedikit demi sedikit turun ke arah barat, pertanda hari semakin sore. Kegiatan kami pun terus berjalan hingga menjelang matahari terbenam. Tak terasa ini adalah kegiatan kunjungan terakhir kami, karena nanti malam kami sudah dipisah di rumah keluarga orang-orang Jepang untuk Home-Stay selama 3 hari 2 malam. Destinasi kunjungan kami yang terakhir adalah Museum Kompeito.

Permen Kompeito yang kecil-kecil berwarna-warni dan berbentuk bintang.

Permen Kompeito yang kecil-kecil berwarna-warni dan berbentuk seperti bintang.

Permen Kompeito adalah gula-gula yang diperkenalkan dari negara Portugal atau Portugis pada abad ke-16. Museum Kompeito adalah museum yang dibuka oleh Perusahaan Osaka-Taka untuk memperkenalkan sejarah dan proses pembuatan permen Kompeito melalui observasi pabrik dan praktek pembuatan. Permen Kompeito yang berbentuk bintang kecil yang berwarna-warni sangat digemari anak-anak kecil Jepang, dan diyakini tahan lama hingga 20-30 tahun dalam lingkungan terkendali karena proses pembuatan yang menggunakan suhu sangat tinggi. Dalam acara-acara resepsi keluarga kekaisaran pun, Kompeito kadang dipakai sebagai hadiah tanda terima kasih yang diberikan kepada tamu yang dating menghadiri resepsi.

Berkesempatan Mencoba Membuat Permen "Kompeito"

Berkesempatan Mencoba Membuat Permen “Kompeito”

Kami pun diberi kesempatan untuk mencoba membuat permen gula-gula tersebut. Permen yang kami buat adalah Kompeito yang rasa jeruk dan berwarna orange (jingga). Sebenarnya yang kami lakukan hanyalah tinggal proses pewarnaan dan pemberian rasa saja, karena proses pembuatan permen Kompeitonya hingga berbentuk seperti Bintang membutuhkan waktu yang sangat lama dan suhu pembuatan yang sangat tinggi.

Sesi Pertanyaan dan Kuis tentang "Museum Kompeito"

Sesi Pertanyaan dan Kuis tentang “Museum Kompeito”

Rencananya setelah proses pembuatan selesai, permen hasil praktek kami tersebut akan dibagikan kepada setiap anggota grup kami sebagai oleh-oleh dari Museum Kompeito. Dan benar saja, menjelang kepergian kami dari museum tersebut, kami diberikan satu bungkus permen kompeito yang sudah dihias dengan rapi. Dari museum ini kami belajar untuk meninjau langsung produksi lokal, melestarikan budaya dan warisan tradisional. Walau aslinya permen ini bukan berasal dari Jepang, melainkan negara Portugal (dulu Portugis), namun orang-orang Jepang yang melestarikannya tetap mengakui negara Portugal sebagai negara asal usul permen tradisonal Kompeito. Patut ditiru….

To be continued,… Part 6

Iklan

3 respons untuk ‘Catatan Student Exchange JENESYS 2,0 2014 “Belajar Budaya di Negeri Shinkansen” (Part 5)

Jangan Lupa Komen ya....!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s